Di perbukitan sunyi bernama Puncak Nara, berdiri sebuah vila megah milik keluarga Wangsa. Dari kejauhan, rumah itu tampak seperti mimpi: pilar putih menjulang, kaca besar memantulkan cahaya matahari, dan taman mawar yang tak pernah layu. Keluarga Wangsa dikenal sebagai lambang kehormatan—kaya, harmonis, disegani.
![]() |
| ilustration for Ai |
Nadin tumbuh di tengah kemewahan itu. Putri satu-satunya, cantik, lembut, dan dijaga seperti harta karun. Tapi di balik dinding marmer dan senyum keluarga Wangsa, tersembunyi retakan yang tak terlihat.
Ayahnya, seorang pebisnis ulung, terpikat oleh gadis muda pekerja pabriknya. Sebuah hubungan terlarang yang berujung kehamilan. Namun ketika kesadaran menghantam—bahwa mengakui semuanya berarti kehilangan segalanya, karena semua harta atas nama sang istri—ia memilih jalan paling gelap. Gadis itu dibungkam… selamanya.
Kasus itu terbongkar. Media meledak. Reputasi hancur. Ayah Nadin dijerat hukum, dan ibunya—terlalu lelah menanggung malu dan kehilangan segalanya—pergi tanpa sepatah kata. Meninggalkan Nadin, seorang diri.
Hari-hari berlalu, makanan habis, listrik padam. Tapi Nadin tetap menunggu di dekat pintu, duduk di kursi kesayangannya, berharap ibunya akan kembali dan berkata,
“Maaf, Mama pulang.”
Tapi pintu itu tak pernah terbuka. Dan perlahan, waktu mengambil segalanya.
![]() |
| ilustration for Ai |
Sepuluh tahun kemudian.Vila itu tampak tua dan ditinggalkan, tapi di dalamnya ada kehidupan baru. Nadeo, anak muda 16 tahun, pindah ke sana setelah orang tuanya membeli vila itu dengan harga murah. Mereka bekerja di luar negeri, dan Nadeo—dengan percaya diri remaja yang terlalu awal ditinggal sendiri—menyebut rumah besar itu sebagai "kerajaan pribadi."
Sampai suatu sore, saat kabut turun lebih cepat dari biasanya, ia mendengar suara nyanyian dari arah teras belakang.
Lembut. Penuh luka.
Ia melangkah pelan, membuka pintu geser yang berderit, dan melihat seorang gadis duduk di kursi tua. Gaunnya putih kekuningan seperti lapuk, rambutnya panjang menutupi sebagian wajah, tapi ada ketenangan aneh dalam dirinya.
![]() |
| ilustration for Ai |
“Suara kamu bagus,” kata Nadeo, sedikit kaget karena mulutnya bisa berbicara.
Gadis itu tersenyum. “Lagu lama. Aku nyanyi supaya nggak lupa.”
“Nggak lupa apa?”
“…Diri sendiri.”
Hening sebentar. Nadeo merasa aneh, tapi bukan takut. Gadis itu punya aura yang hangat tapi menyedihkan, seperti buku cerita yang halaman akhirnya hilang.
“Namamu siapa?” tanya Nadeo.
“Nadin. Kamu?”
“Nadeo. Tapi biasanya dipanggil Deo.”
Mereka ngobrol ringan. Tentang pohon tua di halaman, suara burung malam, dan kenapa lampu koridor selalu padam sendiri. Obrolan yang remeh, tapi terasa penting.
Hari-hari berikutnya mereka bertemu lagi. Nadeo mulai merasa rumah itu bukan lagi tempat sepi. Ada tawa. Ada teman. Bahkan hatinya kadang berdebar saat melihat senyum Nadin.
“Nadin,” kata Nadeo suatu malam, saat mereka duduk di bawah langit bintang, “kamu pernah jatuh cinta?”
Nadin memandangnya lama, matanya kosong tapi manis.
“Pernah. Tapi waktu itu... aku nggak ngerti caranya nunggu.”
“Maksudmu?”
“Kadang, kita terlalu lama menunggu sesuatu yang udah pergi.”
Nadeo diam. Kalimat itu menempel di kepalanya, tapi belum ia pahami sepenuhnya.
Hari-hari bersama Nadin terasa seperti musim semi yang tak pernah usai. Nadeo, yang awalnya menganggap vila itu sebagai tempat persinggahan, kini menyebutnya rumah. Karena di sana ada Nadin—sosok yang hadir dengan tenang, tanpa paksaan, tapi mengisi semua ruang hatinya.
Suatu pagi, kabut belum sepenuhnya naik ketika Nadeo menarik tangan Nadin ke halaman belakang. Taman yang dulu penuh semak liar, kini mulai terurus berkat kebersamaan mereka. Di tengah tawa dan lari kecil di antara rumput basah, Nadeo memetik bunga liar berwarna ungu kebiruan.
“Buat kamu,” katanya sambil menyelipkan bunga itu di telinga Nadin.
Nadin tersipu. Wajahnya memerah, dan tanpa kata-kata, ia menatap Nadeo lama. Lalu dengan gerakan ringan—dan spontan—ia mendekat dan mengecup pipi Nadeo. Cepat, tapi cukup untuk membuat dunia Nadeo berhenti berputar.
![]() |
| ilustration for Ai |
“Kenapa?” tanya Nadin, melihat Nadeo melongo.
“Enggak... cuma, tadi kamu... ya... ya gitu.”
Nadin tertawa kecil. Suaranya seperti lagu yang pernah ia nyanyikan di teras. “Kalau hidup cuma punya beberapa detik bahagia… kenapa harus ditunda?”
Kalimat itu terpatri dalam benak Nadeo, lebih dalam dari apapun yang pernah ia baca atau dengar.
Tapi sesuatu berubah. Nadin tiba-tiba tak muncul lagi.
Nadeo menunggu di kursi biasa mereka. Mencari di taman, di loteng, bahkan di jendela tempat mereka biasa memandangi bintang. Tapi tidak ada. Tidak ada suara, tidak ada langkah, tidak ada tawa.
Sampai ia menemukannya—sebuah buku lusuh terjepit di balik lemari tua di ruang kerja yang kini jadi gudang. Diary. Dengan nama di halaman depan: Nadin Wangsa.
Jantungnya berdetak tak beraturan saat membuka halaman demi halaman.
Tulisan Nadin seperti napas yang tersisa: tentang kesepian, lapar, suara perutnya yang minta makan, harapan pada ibu, hingga keputusasaan yang tak tertolong.
"Hari ini... aku lemas sekali. Aku takut tidur di ruang tamu, dingin dan terlalu sepi. Aku ingat kantor Papa yang dulu... ada peti penyimpanan di sana, tebal, hangat. Aku masuk ke dalamnya. Hanya sebentar, sampai Mama pulang. Hanya sebentar…"
Air mata Nadeo jatuh menimpa halaman terakhir.
Dengan tubuh gemetar, ia membuka pintu gudang. Debu beterbangan, aroma tua memenuhi udara. Ia menyusuri ruangan hingga kakinya menyentuh sesuatu—sebuah peti kayu besar, teronggok di sudut tergelap ruangan.
Ia buka perlahan. Engsel berderit.
Dan di dalamnya... jasad. Kering. Nyaris tulang. Dengan gaun putih yang lusuh, dan bunga ungu kebiruan yang masih terselip di telinganya.
![]() |
| ilustration for Ai |
Nadeo jatuh terduduk. Ia menangis. Menangis seperti anak kecil yang kehilangan dunianya. Karena ia tahu… cinta pertamanya tak pernah benar-benar hidup. Tapi ia juga tahu—tidak ada cinta yang lebih nyata dari Nadin.
Di ruang tamu, kursi tua itu tetap kosong. Tapi setiap malam, Nadeo masih sering duduk di sana, berharap lagu itu akan terdengar kembali dari teras. Sekalipun hanya sekali lagi.
![]() |
| ilustration for Ai |
"Apa pendapatmu tentang akhir tragis yang terungkap dalam cerita horor ini? Bagikan pemikiranmu di kolom komentar dan mari diskusikan apa yang sebenarnya ada di balik setiap pilihan dan keputusan hidup yang mengarah ke takdir mereka."
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email






No Comments