KUMPULAN CERPEN

Jumat, 11 April 2025

thumbnail

Cerpen Horor Mistis: "Emas dari Pohon Tua", Kisah Airlangga & Wewe Gombel

“Cerpen horor ini mengangkat kisah Airlangga, remaja cerdas dari desa kaki Gunung Meruya yang menantang kepercayaan mistis dan bertemu Wewe Gombel. Simak cerita sarat simbolik dan pesan moral ini.”


Di bawah kaki Gunung Meruya, tersembunyi sebuah desa kecil yang tertutup kabut dan waktu. Desa itu seperti tertidur, hidup dalam irama mantra dan dupa yang terbakar setiap pagi. Di sana, angin pun dipercaya bisa membawa pesan roh, dan pohon tua dianggap sebagai singgasana para penunggu gaib.

Desa mistis di kaki Gunung Meruya yang dikelilingi kabut tebal, dengan pohon tua besar yang menjadi tempat sesajen dan suasana yang penuh ketegangan dan tradisi lama
ilustration for Ai

Airlangga, remaja 16 tahun dengan mata tajam dan langkah pasti, sering jadi bahan bisik-bisik warga. Ia berbeda. Di saat teman-teman sebayanya belajar menabur bunga di kaki pohon keramat, Airlangga malah sibuk membaca buku fisika bekas dari kota. Ia menyebut sesajen sebagai "sampah organik yang mubazir", dan dukun sebagai "dokter tanpa sertifikat".

Puncaknya, suatu malam Airlangga membakar alat-alat perdukunan warisan kakeknya — boneka jerami, kendi berisi darah ayam, dan kemenyan yang belum sempat terbakar. Api kecil itu memantik sesuatu yang besar. Dalam tiga malam berikutnya, suara tangis anak kecil menggema dari bukit, dan angin membawa bisikan yang membuat jantung siapapun berdegup tiga kali lebih cepat.

Airlangga dengan ekspresi serius menendang sesajen yang tergeletak di bawah pohon besar, diiringi cahaya api unggun yang menerangi wajahnya di malam yang penuh ketegangan
ilustration for Ai

Airlangga tak gentar. Ia menyusuri suara itu, hingga tiba di pohon waru tua tempat orang-orang menaruh sesajen. Di sanalah ia melihatnya: sosok tinggi, rambut menjuntai, mata merah membara — Wewe Gombel.

"Aku tidak takut," kata Airlangga.

Dan malam pun tak pernah sama lagi.

Kabut tebal mengisi hutan, dengan siluet Airlangga yang hilang di antara pepohonan yang sebagian besar tertutup kabut, menciptakan suasana misterius dan penuh ketegangan
ilustration for Ai

Wewe Gombel berdiri tak jauh dari Airlangga, wajahnya tak sepenuhnya menyeramkan seperti cerita orang-orang. Ia tampak... kecewa. Seperti seorang ibu yang anaknya tak lagi pulang.

“Kau yang membakar perabotku,” suaranya dalam, menggema seperti dari dalam gua.

Airlangga mengangguk. “Karena itu semua omong kosong. Pohon bukan rumah, angin bukan roh. Dan kau… bukan dewi penjaga, cuma mitos yang dipelihara ketakutan.”

Wewe Gombel mendekat, angin di sekitar mereka mencekam, dedaunan merunduk. “Mereka percaya padaku karena mereka butuh dijaga. Anak-anak yang ditelantarkan, yang dipukul, yang dikurung—aku yang menyelamatkan mereka.”

“Lalu kenapa aku tidak kau culik?” tantang Airlangga. “Aku juga tidak hidup enak. Ayah pemabuk, ibu bekerja jauh, aku besar sendirian. Tapi aku memilih berpikir, bukan percaya buta.”

Wewe Gombel terdiam. Untuk pertama kalinya, matanya tidak bersinar merah, tapi suram. “Karena kau... tidak butuhku,” gumamnya. “Kau tidak menjerit. Kau bertanya.”

Wewe Gombel, sosok hantu wanita dengan mata putih bercahaya dan rambut panjang kusut, muncul dari kabut tebal, menambah kesan mistis dan menegangkan dalam hutan gelap
ilustration for Ai

Kemudian, tanpa peringatan, dunia berubah. Sekeliling mereka gelap, angin berhenti, dan Airlangga tahu ia tidak lagi di dunia manusia. Alam Wewe Gombel adalah tempat sepi, penuh ayunan yang bergoyang sendiri, mainan rusak, dan suara-suara anak yang tidak pernah selesai menangis.

“Aku tidak mencuri mereka,” kata Wewe. “Aku hanya memberi mereka tempat… yang tak mereka dapatkan dari manusia.”

Airlangga menggenggam saku jaketnya, berusaha tenang. “Tapi kau menakut-nakuti mereka. Membuat warga terus menggantung sesajen, hidup dalam ketakutan.”

Wewe Gombel tersenyum tipis. “Tanpa rasa takut, mereka lupa. Lupa siapa yang pernah mereka sakiti.”

Setelah lama diam, Wewe menunjuk ke pohon besar yang ada di dunia itu, mirip dengan pohon waru di desanya. “Di sana, aku menaruh makananku. Jangan ganggu lagi. Sebagai gantinya…”

Ia mengayunkan tangannya, dan dari udara kosong, jatuhlah satu keping emas kecil, mengilat meski tak tersentuh cahaya.

“Satu minggu, satu keping. Asal kau tak ganggu lagi tempatku. Setuju?”

Airlangga ragu. “Dan kalau aku melanggar?”

“Kau tak akan sempat menyesal,” bisiknya.

Airlangga menatap keping emas itu di telapak tangannya. Kecil, padat, dan hangat. Terasa nyata. Tapi pikirannya masih bergulat — ini perjanjian dengan makhluk gaib. Apa ia sedang menjual prinsip? Atau sedang menciptakan jalan baru untuk bertahan hidup?

Wewe Gombel memberikan keping emas bercahaya kepada Airlangga di bawah pohon besar yang diselimuti kabut, dengan atmosfer magis yang menyelimuti keduanya
ilustration for Ai

Ia memandang ke arah Wewe Gombel, yang kini berdiri memunggunginya, menatap dunia bawah yang remang. Bahunya naik turun perlahan, seperti menghela napas berat.

"Aku tidak butuh emas," kata Airlangga, jujur dari dalam hati.

Wewe Gombel menoleh cepat, mata merahnya menyipit. “Kau manusia paling cerewet yang pernah kudapati. Lainnya menjerit, minta pulang, atau langsung gila. Kau malah debat dan menganalisis. Menyebalkan.” Suaranya ketus, alisnya bertaut.

Airlangga tersenyum tipis. “Aku cuma pengen ngerti.”

Wewe Gombel menyeringai miring, ekspresinya antara jengkel dan kagum. Ia melipat tangannya, lalu duduk di ayunan yang tiba-tiba muncul dari kabut. Kakinya goyang-goyang seperti anak kecil ngambek.

"Kau tahu, kadang aku curiga... aku ini penunggu, atau cuma trauma kolektif?" gumamnya. "Apa aku muncul karena mereka takut, atau karena mereka perlu kambing hitam atas anak-anak yang mereka telantarkan?"

Airlangga terdiam. Ini bukan sosok hantu mengerikan seperti yang diceritakan warga. Ini makhluk penuh luka, penuh tanya, yang hidup dari celah-celah dosa manusia.

Setelah keheningan panjang, Wewe berdiri dan menghampiri Airlangga. “Ambil emasnya. Jadikan modalmu berpikir lebih panjang. Dunia ini butuh orang kayak kamu... tapi juga butuh takut sesekali.”

“Aku nggak janji bakal percaya, tapi aku janji nggak ganggu tempatmu lagi,” ujar Airlangga.

Wewe mengangguk. "Itu cukup."

Tiba-tiba semuanya gelap.

Airlangga terbangun di bawah pohon waru. Pagi menjelang. Saku jaketnya terasa berat. Ketika ia mengintip, keping emas itu masih ada.

Sejak hari itu, setiap minggu Airlangga diam-diam mengambil satu keping emas dari bawah akar pohon tua. Ia tak pernah mengganggu sesajen lagi. Ia juga tidak pernah menyuruh orang percaya, tapi ia berhenti mengejek.

Dengan emas itu, ia memperbaiki rumah, menyekolahkan adiknya ke kota, dan bahkan membangun perpustakaan kecil di desanya.

Dan setiap kali ada orang bertanya, “Kamu dapat uang dari mana?”

Airlangga hanya tersenyum dan menjawab,
“Dari hasil berpikir... dan sedikit kompromi dengan yang tak terlihat.”

 

"Takhayul adalah agama bagi mereka yang tak mau berpikir."
Edmund Burke

 

Suka cerita seperti ini? Baca juga:
🔗 Cerpen: Damar, Anak Desa yang Membawa Listrik

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

About

Cari Blog Ini

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Cerpen Horor: Cinta Terlarang dan Misteri Nadin di Puncak Nara

Di perbukitan sunyi bernama Puncak Nara, berdiri sebuah vila megah milik keluarga Wangsa. Dari kejauhan, rumah itu tampak seperti mimpi: pil...

About