“Cerpen horor ini mengangkat kisah Airlangga, remaja cerdas dari desa kaki Gunung Meruya yang menantang kepercayaan mistis dan bertemu Wewe Gombel. Simak cerita sarat simbolik dan pesan moral ini.”
Di bawah kaki Gunung Meruya, tersembunyi sebuah desa kecil
yang tertutup kabut dan waktu. Desa itu seperti tertidur, hidup dalam irama
mantra dan dupa yang terbakar setiap pagi. Di sana, angin pun dipercaya bisa
membawa pesan roh, dan pohon tua dianggap sebagai singgasana para penunggu
gaib.
![]() |
| ilustration for Ai |
Airlangga, remaja 16 tahun dengan mata tajam dan langkah pasti, sering jadi bahan bisik-bisik warga. Ia berbeda. Di saat teman-teman sebayanya belajar menabur bunga di kaki pohon keramat, Airlangga malah sibuk membaca buku fisika bekas dari kota. Ia menyebut sesajen sebagai "sampah organik yang mubazir", dan dukun sebagai "dokter tanpa sertifikat".
Puncaknya, suatu malam Airlangga membakar alat-alat
perdukunan warisan kakeknya — boneka jerami, kendi berisi darah ayam, dan
kemenyan yang belum sempat terbakar. Api kecil itu memantik sesuatu yang besar.
Dalam tiga malam berikutnya, suara tangis anak kecil menggema dari bukit, dan
angin membawa bisikan yang membuat jantung siapapun berdegup tiga kali lebih
cepat.
![]() |
| ilustration for Ai |
Airlangga tak gentar. Ia menyusuri suara itu, hingga tiba di
pohon waru tua tempat orang-orang menaruh sesajen. Di sanalah ia melihatnya:
sosok tinggi, rambut menjuntai, mata merah membara — Wewe Gombel.
"Aku tidak takut," kata Airlangga.
Dan malam pun tak pernah sama lagi.
![]() |
| ilustration for Ai |
Wewe Gombel berdiri tak jauh dari Airlangga, wajahnya tak
sepenuhnya menyeramkan seperti cerita orang-orang. Ia tampak... kecewa. Seperti
seorang ibu yang anaknya tak lagi pulang.
“Kau yang membakar perabotku,” suaranya dalam, menggema
seperti dari dalam gua.
Airlangga mengangguk. “Karena itu semua omong kosong. Pohon
bukan rumah, angin bukan roh. Dan kau… bukan dewi penjaga, cuma mitos yang
dipelihara ketakutan.”
Wewe Gombel mendekat, angin di sekitar mereka mencekam,
dedaunan merunduk. “Mereka percaya padaku karena mereka butuh dijaga. Anak-anak
yang ditelantarkan, yang dipukul, yang dikurung—aku yang menyelamatkan mereka.”
“Lalu kenapa aku tidak kau culik?” tantang Airlangga. “Aku
juga tidak hidup enak. Ayah pemabuk, ibu bekerja jauh, aku besar sendirian.
Tapi aku memilih berpikir, bukan percaya buta.”
Wewe Gombel terdiam. Untuk pertama kalinya, matanya tidak
bersinar merah, tapi suram. “Karena kau... tidak butuhku,” gumamnya. “Kau tidak
menjerit. Kau bertanya.”
![]() |
| ilustration for Ai |
Kemudian, tanpa peringatan, dunia berubah. Sekeliling mereka
gelap, angin berhenti, dan Airlangga tahu ia tidak lagi di dunia manusia. Alam
Wewe Gombel adalah tempat sepi, penuh ayunan yang bergoyang sendiri, mainan
rusak, dan suara-suara anak yang tidak pernah selesai menangis.
“Aku tidak mencuri mereka,” kata Wewe. “Aku hanya memberi
mereka tempat… yang tak mereka dapatkan dari manusia.”
Airlangga menggenggam saku jaketnya, berusaha tenang. “Tapi
kau menakut-nakuti mereka. Membuat warga terus menggantung sesajen, hidup dalam
ketakutan.”
Wewe Gombel tersenyum tipis. “Tanpa rasa takut, mereka lupa.
Lupa siapa yang pernah mereka sakiti.”
Setelah lama diam, Wewe menunjuk ke pohon besar yang ada di
dunia itu, mirip dengan pohon waru di desanya. “Di sana, aku menaruh makananku.
Jangan ganggu lagi. Sebagai gantinya…”
Ia mengayunkan tangannya, dan dari udara kosong, jatuhlah
satu keping emas kecil, mengilat meski tak tersentuh cahaya.
“Satu minggu, satu keping. Asal kau tak ganggu lagi
tempatku. Setuju?”
Airlangga ragu. “Dan kalau aku melanggar?”
“Kau tak akan sempat menyesal,” bisiknya.
Airlangga menatap keping emas itu di telapak tangannya.
Kecil, padat, dan hangat. Terasa nyata. Tapi pikirannya masih bergulat — ini
perjanjian dengan makhluk gaib. Apa ia sedang menjual prinsip? Atau sedang
menciptakan jalan baru untuk bertahan hidup?
![]() |
| ilustration for Ai |
Ia memandang ke arah Wewe Gombel, yang kini berdiri
memunggunginya, menatap dunia bawah yang remang. Bahunya naik turun perlahan,
seperti menghela napas berat.
"Aku tidak butuh emas," kata Airlangga, jujur dari
dalam hati.
Wewe Gombel menoleh cepat, mata merahnya menyipit. “Kau
manusia paling cerewet yang pernah kudapati. Lainnya menjerit, minta pulang,
atau langsung gila. Kau malah debat dan menganalisis. Menyebalkan.” Suaranya
ketus, alisnya bertaut.
Airlangga tersenyum tipis. “Aku cuma pengen ngerti.”
Wewe Gombel menyeringai miring, ekspresinya antara jengkel
dan kagum. Ia melipat tangannya, lalu duduk di ayunan yang tiba-tiba muncul
dari kabut. Kakinya goyang-goyang seperti anak kecil ngambek.
"Kau tahu, kadang aku curiga... aku ini penunggu, atau
cuma trauma kolektif?" gumamnya. "Apa aku muncul karena mereka takut,
atau karena mereka perlu kambing hitam atas anak-anak yang mereka
telantarkan?"
Airlangga terdiam. Ini bukan sosok hantu mengerikan seperti
yang diceritakan warga. Ini makhluk penuh luka, penuh tanya, yang hidup dari
celah-celah dosa manusia.
Setelah keheningan panjang, Wewe berdiri dan menghampiri
Airlangga. “Ambil emasnya. Jadikan modalmu berpikir lebih panjang. Dunia ini
butuh orang kayak kamu... tapi juga butuh takut sesekali.”
“Aku nggak janji bakal percaya, tapi aku janji nggak ganggu
tempatmu lagi,” ujar Airlangga.
Wewe mengangguk. "Itu cukup."
Tiba-tiba semuanya gelap.
Airlangga terbangun di bawah pohon waru. Pagi menjelang.
Saku jaketnya terasa berat. Ketika ia mengintip, keping emas itu masih ada.
Sejak hari itu, setiap minggu Airlangga diam-diam mengambil
satu keping emas dari bawah akar pohon tua. Ia tak pernah mengganggu sesajen
lagi. Ia juga tidak pernah menyuruh orang percaya, tapi ia berhenti mengejek.
Dengan emas itu, ia memperbaiki rumah, menyekolahkan adiknya
ke kota, dan bahkan membangun perpustakaan kecil di desanya.
Dan setiap kali ada orang bertanya, “Kamu dapat uang dari
mana?”
Airlangga hanya tersenyum dan menjawab,
“Dari hasil berpikir... dan sedikit kompromi dengan yang tak terlihat.”
"Takhayul
adalah agama bagi mereka yang tak mau berpikir."
— Edmund Burke
Suka cerita seperti ini? Baca juga:
🔗
Cerpen: Damar, Anak Desa yang Membawa Listrik
Subscribe by Email
Follow Updates Articles from This Blog via Email





No Comments